Warga 'Keluhkan' Jalan Rusak Dan Suka Banjir Akibat Tambang Galian C di Pekon Wates Pringsewu

Portal Lampung, Pringsewu – Jalan di Dusun Sari Bumi, Desa Wates Selatan, Kabupaten Pringsewu, Lampung, rusak parah dan sulit ditempuh akibat aktivitas tambang galian C yang diduga dikendalikan seseorang bernama Sandi. Kondisi jalan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, namun juga dicurigai berkaitan dengan terjadinya banjir besar beberapa waktu lalu di wilayah tersebut.
 
Aktivitas penggalian telah berlangsung lama dengan pergantian pemborong secara berkala. 

"Pemborongnya ganti-ganti yang sekarang pak sandi namanya. Lewat sini setiap hari, mobil pengangkutnya sedikitnya aja sepuluh terkadang sampai 20 mobil yang lewat gimana nggak rusak," ujar salah satu warga yang tinggal di pinggir jalan.
 
Warga pinggir jalan mengaku pernah menerima kompensasi berupa uang tunai Rp50 ribu sekali saja, serta beras 5 kg dan minyak. Namun bantuan tersebut tidak diberikan secara berkelanjutan dan hanya untuk sebagian warga. 

"Itu memang dikasih ganti rugi... uang kompensasi debu lima puluh ribu, cuman baru itu sama lagi kemarinnya beras lima kilo sama minyak udah dan yang dikasih, cuman yang dekat ini aja, yang pinggir jalan ini aja," jelasnya.
 
Menurut regulasi nasional, perusahaan tambang tidak diwajibkan memberikan uang tunai langsung sebagai kompensasi, namun harus menjalankan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas publik, atau program ekonomi masyarakat. Bantuan yang diterima warga belum memenuhi standar tanggung jawab sosial yang seharusnya diberikan secara berkelanjutan.
 
Kekesalan juga datang dari pemilik tanah yang semula menyediakan akses jalan untuk masyarakat. 

"Sebenarnya saya dulu tuh kasih jalan, ternyata ya kayak gini lah nggak bisa ngomong lagi saya udah udah males saya ngomong," ucapnya dengan nada kesal.
 
Senada dengan itu, warga inisial MR (34) mengeluhkan kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. 

"Jalan kaki susah, saya montor aja kotor kayak gitu... jalan kaki aja sampai jinjing-jinjing baju gitu susah tuh," katanya tak mau disebutkan nama secara lengkap.
 
Upaya masyarakat untuk melapor ke aparat pekon sebelumnya hanya menghasilkan penanganan yang tidak memuaskan. 

"Udah ya katanya suruh timbun-timbun dah gitu aja," ucap ibu MR menirukan ucapan dari pihak pekon. 

Ia juga menyindir kemungkinan hubungan antara aktivitas penggalian dengan banjir. 

"Kemarin Sari Bumi banjir gede, mungkin dampak dari situ ya? Nah, makanya dampak dari digundulin ini ya bang," katanya sambil menunjukkan rasa khawatir.
 
Masyarakat berharap jalan segera diperbaiki dan pihak berwenang mengambil tindakan tegas terkait aktivitas penggalian agar tidak menyebabkan dampak buruk lebih lanjut. 

"Harapannya nanti supaya dibagusin biar nggak becek kalau jalan biar nggak debu," pinta warga dusun sari bumi dan pekon wates selatan. ( Red / Dha / Hayat )
Lebih baru Lebih lama