PORTAL LAMPUNG, TANGGAMUS – Rayakan kemenangan Idul Fitri 1447 H, Muli Mekhanai Bandar Agung menggelar rangkaian perhelatan budaya mulai dari seni Pencak Silat, Panjat Pinang, hingga malam Sambaiyan bertempat di Lambana Gedung Bandar Agung, Pekon Pardawaras, Senin (23/03/2026). Acara rutin tahunan ini menjadi sarana mempererat silaturahmi lintas pekon sekaligus upaya nyata melestarikan kearifan lokal Lampung di tengah derasnya arus modernisasi.
Di bawah langit cerah 3 Syawal, debu halus membubung dari tanah lapang saat para pesilat muda melangkah ke tengah gelanggang. Dengan gerak yang luwes namun sarat tenaga, mereka memulai prosesi seni bela diri yang telah menjadi ruh dalam perayaan hari besar di Bumi Begawi Jejama. Perhelatan ini bukan sekadar tontonan, melainkan wujud syukur kolektif setelah sebulan penuh menempa diri di bulan suci Ramadan.
Restu dan Pesan dari Pucuk Adat
Keabsahan dan kekhidmatan acara ini semakin terasa dengan kehadiran jajaran tokoh adat, termasuk Pangeran Jaya Ratu Bandar Agung dan para Jakhu Suku setempat. Kehadiran para pemangku adat ini menjadi simbol restu serta dukungan penuh terhadap upaya generasi muda dalam merawat warisan leluhur.
Dalam kesempatannya, Pangeran Jaya Ratu Bandar Agung memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para pemuda dalam menjaga akar budaya.
"Budaya adalah identitas kita. Saya sangat bangga melihat Muli Mekhanai Bandar Agung tetap teguh memegang amanah leluhur di tengah zaman yang kian berubah. Tradisi seperti Pencak Silat dan Sambaiyan ini bukan hanya soal ketangkasan atau keramaian, melainkan cara kita merawat adab, memperkuat tali persaudaraan, dan menjaga kehormatan tanah kelahiran kita," tutur Pangeran Jaya Ratu dengan penuh wibawa.
Simpul Silaturahmi Lintas Wilayah
Kekuatan tradisi ini tak hanya dirasakan oleh warga lokal. Kemeriahan seni pencak silat kali ini semakin berwarna dengan kehadiran tamu undangan dari pekon-pekon tetangga, bahkan hingga dari kecamatan tetangga. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa budaya adalah perekat sosial yang mampu melampaui batas wilayah administratif.
"Kehadiran saudara-saudara kami dari pekon dan kecamatan tetangga adalah kehormatan besar. Ini adalah bentuk nyata dalam mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan di hari yang fitri ini," ungkap Joewandri Ketua panitia Pelaksana di lokasi acara.
Pesan Idul Fitri dari Muli Mekhanai
Di sela-sela kemeriahan, Lukman, selaku perwakilan Muli Mekhanai Bandar Agung, menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi perayaan tahun ini.
"Atas nama pribadi dan mewakili seluruh keluarga besar Muli Mekhanai Bandar Agung, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga hari kemenangan ini membawa keberkahan bagi kita semua," ujar Lukman.
Lukman juga menekankan bahwa kelancaran acara ini adalah buah dari gotong royong dan dukungan penuh masyarakat.
"Kami menyampaikan apresiasi dan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Bandar Agung, Pangeran Jaya Ratu, para Jakhu Suku, serta semua pihak atas dukungannya, baik secara moril maupun materiil. Berkat doa dan bantuan semuanya, acara dari perencanaan hingga pelaksanaan berjalan lancar dan sukses tanpa ada halangan suatu apa pun," tambahnya dengan nada syukur.
Berlanjut hingga Malam: Tradisi Sambaiyan
Kemeriahan di Bandar Agung tidak berhenti saat matahari terbenam. Keseruan panjat pinang dan ketangkasan pencak silat pada siang hari hanyalah pembuka. Acara masih akan dilanjutkan pada malam harinya dengan tradisi Sambaiyan Muli Mekhanai yang juga bertempat di Lambana Gedung.
Agenda malam ini diprediksi akan berlangsung semarak karena turut menghadirkan muli mekhanai dari berbagai pekon tetangga sebagai undangan khusus. Sambaiyan menjadi ruang bagi para pemuda-pemudi untuk saling mengenal dan memperkuat jejaring kekeluargaan dalam bingkai adat istiadat yang santun dan penuh kehangatan.
Seiring berakhirnya rangkaian siang, antusiasme masyarakat tetap tinggi menanti puncak kebersamaan di malam hari. Kemenangan sejati hari ini bukan sekadar hadiah yang diraih, melainkan keberhasilan masyarakat dalam menjaga nyala api tradisi agar tetap berkobar. (Redaksi/Heri)