RADAR BERITA , Kota Metro – Sejumlah destinasi wisata yang dibangun Pemerintah Kota Metro dengan anggaran miliaran rupiah kini menuai sorotan tajam. Alih-alih menjadi ikon pariwisata dan penggerak ekonomi daerah, beberapa aset wisata justru terbengkalai, rusak, dan minim pemeliharaan.
Berdasarkan pantauan media ini, sejumlah objek wisata seperti kawasan Wisata Alam Sumbersari, wahana Flying Fox, kawasan DAM Raman, hingga destinasi Capit Urang, saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Fasilitas yang dibangun dengan biaya besar tampak rusak, tidak berfungsi optimal, bahkan sebagian area terlihat dibiarkan tanpa pengelolaan yang jelas.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait efektivitas perencanaan, pelaksanaan, serta pengelolaan aset wisata oleh Pemerintah Kota Metro, khususnya perangkat daerah yang membidangi sektor pariwisata.
Aktivis MATTA Institute, Maya Dewi Larasati, menilai terbengkalainya sejumlah aset wisata itu merupakan cerminan lemahnya perencanaan pembangunan dan buruknya tata kelola manajemen aset daerah.
“Hal ini tentu sangat merugikan keuangan negara. Pembangunan yang menggunakan anggaran besar seharusnya dilakukan dengan perencanaan yang matang, skala prioritas yang jelas, serta didukung manajemen pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Maya, Pemerintah Kota Metro belum mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki. Padahal, sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Potensi wisata alam Kota Metro sangat besar. Namun tanpa visi yang jelas, perencanaan yang terukur, dan pengelolaan yang profesional, potensi tersebut hanya akan berakhir menjadi proyek fisik yang mangkrak,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa setiap rupiah anggaran negara yang telah digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel kepada masyarakat.
“Uang negara yang telah dipakai bukanlah jumlah kecil. Karena itu, pemerintah wajib memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan memberikan manfaat nyata. Jangan sampai aset yang dibangun dengan dana publik justru berubah menjadi simbol pemborosan anggaran dan kegagalan perencanaan,” tambahnya.
Maya mendesak Pemerintah Kota Metro untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aset wisata yang ada. Revitalisasi, perbaikan tata kelola, serta penyusunan strategi pengembangan yang lebih profesional dinilai menjadi langkah mendesak agar aset-aset tersebut dapat kembali berfungsi dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Masyarakat pun berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menjamin keberlanjutan pengelolaan dan pemeliharaan aset. Tanpa langkah konkret, aset wisata bernilai miliaran rupiah tersebut dikhawatirkan hanya akan menjadi beban daerah dan saksi bisu gagalnya perencanaan pembangunan.